Transformasi Mental

Hai !

Beberapa bulan yang lalu saya melihat gambar kartun di Facebook, dan saya langsung berpikir bahwa gambar-gambar tersebut layak untuk dicermati, dipahami, dan diimplementasikan khususnya oleh para generasi muda negara Indonesia tercinta ini. Berikut ini gambarnya, silakan dicermati terlebih dahulu.

  

“Sekelompok ilmuwan meletakkan 5 monyet di dalam sebuah kurungan dan di bagian tengah kurungan diletakkan sebuah tangga dan terdapat pisang di atas tangga tersebut.”

 

 

“Setiap kali ada monyet yang menaiki tangga untuk mengambil pisang, para ilmuwan segera menyiram monyet-monyet lainnya dengan air dingin.”

 

 

“Karena hal tersebut, setiap kali ada monyet yang ingin menaiki tangga, monyet-monyet yang lain langsung memukulinya.”

 

 

“Setelah beberapa waktu, akhirnya tidak ada satu monyetpun yang berani menaiki tangga tersebut walaupun mereka sangat ingin mengambil pisang di atas tangga.”

 

 

“Para ilmuwan kemudian memutuskan untuk menukar salah satu monyet dengan monyet baru. Hal pertama yang dilakukan oleh monyet baru ini adalah menaiki tangga tersebut untuk mengambil pisang. Kemudian dengan segera, monyet-monyet lain langsung memukulnya. Setelah beberapa pukulan, monyet baru tersebut belajar bahwa tangga tersebut tidak boleh dinaiki walaupun ia tidak tahu apa alasan sebenarnya.”

 

 

“Monyet kedua kemudian juga ditukar dengan monyet baru, hal yang sama terjadi. Monyet pertama yang ditukar ikut memukuli monyet baru yang kedua. Monyet ketiga juga ditukar, pemukulan juga terjadi. Hingga saat monyet keempat dan kelima ditukarpun, pemukulan tetap dilakukan setiap kali ada monyet baru yang hendak menaiki tangga.”

 

 

“Hingga yang tersisa adalah lima monyet baru yang walaupun tidak pernah disiram dengan air dingin, namun tetap akan memukul monyet manapun yang berusaha untuk menaiki tangga.”

 

 

“JIKA mungkin untuk menanyakan para monyet baru mengapa mereka memukul tiap monyet yang berusaha menaiki tangga, aku berani bertaruh jawaban mereka adalah…”

“Aku tidak tahu, begitulah yang seharusnya dilakukan di sini.”


Well, mengerti intinya guys?

Mungkin ada beberapa momen di mana kita hanya melakukan apa yang dikerjakan atau disuruh oleh orang lain. Atau pada kasus lain, kita kurang kritis untuk mempertanyakan hal-hal seperti,

“kenapa hal ini harus dilakukan?”,

“kenapa hal itu bisa terjadi?”,

“bagaimana hal tersebut bisa dilakukan?”,

“kenapa saya harus melakukan ini?”

“apakah benar melihat langsung gerhana matahari bisa membuat mata menjadi buta?”

“kenapa saya harus memakai sabuk pengaman?”

“kenapa Indonesia belum menjadi negara maju padahal memiliki sumber daya alam dan manusia yang melimpah?”

“kenapa teknologi kita masih tertinggal dari negara lain?”

“kenapa saya harus bersekolah dan belajar di universitas?”

“kenapa saya masih jomblo?”

Serta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang kita temui setiap hari.


Namun perlu juga diiingat, sejuta pertanyaan tidak akan ada artinya jika kita tidak bisa menemukan jawabannya. Bukankah zaman sekarang informasi mudah didapat dari internet? Bahkan beberapa kota di Indonesia sudah ada jaringan 4G yang katanya kecepatan internet super cepat, di mall ada jaringan Wi-Fi, di beberapa rumah sudah memasang Wi-Fi, di cafe ada Wi-Fi, di beberapa warung pun ada yang memasang Wi-Fi.

Bukankah pencarian informasi dan memperdalam ilmu adalah tujuan utama dari kalian yang membeli handphone, tablet, laptop,  atau komputer canggih dan mahal? Ya kan? IYA KAN?

Serta jangan dilupakan bahwa ngobrol, bersosialisasi, dan berkomunikasi dengan orang yang tepat adalah sumber utama kita untuk mencari ilmu.


Jika motto Pak Jokowi pada masa kampanye adalah “revolusi mental”, saya lebih suka memakai istilah “transformasi mental”. Transformasi artinya perubahan. Kita harus mengubah mental kita dari mental pekerja dan menerima apa adanya menjadi mental yang memiliki kekritisan atau rasa ingin tahu yang tinggi.

Rasa ingin tahu yang tinggi akan menambah ilmu. Ilmu yang tinggi akan menghasilkan inovasi dan ide yang nantinya bisa dipergunakan untuk membantu orang banyak dan akhirnya mensejahterakan diri sendiri serta orang lain. Apakah kita tidak mau melihat negara ini berkembang, maju, dan sejahtera secara mandiri?

Nasib negara ini berada di pundak kita semua, tiap individu dari rakyat Indonesia. Dan perubahan yang baik harus dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari detik ini.


Yuk transformasi mental !

“Nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?”

Transformasi Mental

2 thoughts on “Transformasi Mental

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s