Bahaya Suap

Menurut saya suap, gratifikasi, dan segala macam bentuk KKN merupakan salah satu penyebab utama mundurnya mental bangsa sehingga negara kita tidak bisa bergerak maju dan menjadi lebih baik lagi. Saya melihat relatif banyak muslim di negara ini lebih takut makan babi daripada melakukan KKN, padahal KKN berujung kepada menzalimi (KBBI: menindas, menganiaya, berbuat sewenang-wenang terhadap) orang lain. Seegois itukah kita?

Tulisan di bawah ini pertama kali saya dapatkan dari papa saya dan sepertinya tulisan ini sangat layak untuk di-share, dibaca, dipahami, serta diimplementasikan. Saya sudah mendapat izin dari penulis artikel untuk memasukkan artikel ini ke blog saya. Artikel asli bisa dibaca di link berikut, http://www.sabilulilmi.com/akidah-manhaj/bahaya-suap


Bahaya Suap

Penyakit berbahaya yang sangat merusak tatanan masyarakat itu bernama suap (risywah). Kerusakan dan kezaliman akan merebak dalam suatu masyarakat yang terbiasa dengan penyakit tersebut. Suap adalah tradisi orang-orang Yahudi. Allah berfirman mencela orang-orang Yahudi, “Mereka senantiasa mendengar kedustaan dan memakan as-suht.” (QS. Al Maidah: 42) Al Hafidz Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya, “As-Suht” adalah perkara yang haram, ia adalah suap, sebagaimana penafsiran Ibnu Mas’ud dan yang lainnya.

Sebuah hadis diterima dari sahabat Abdullah bin Amr bin al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim dengan sanad yang shahih) Dalam lafadz yang lain, “Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerimanya.” Laknat adalah dijauhkan dari rahmat Allah. Laknat Allah dan Rasul-Nya hanya dijatuhkan kepada kemungkaran yang besar. Ini menunjukkan bahwa memberi dan menerima suap termasuk dosa besar. Pengarang kitab “Az Zawajir ‘an Iqtiraaf al Kabair” memasukkan suap ke dalam kategori dosa besar dan orang yang melakukannya menjadi berstatus fasik, sedikit atau banyak suap tersebut.

Perbuatan suap sangat dilarang keras dan pelakunya akan mendapat laknat karena suap adalah perbuatan yang akan mendatangkan kerusakan di muka bumi. Dengan suap harta manusia dimakan dengan cara yang batil, hukum Allah dirubah, hak-hak diabaikan, kebatilan dibenarkan dan kebenaran dinegasikannya. Suap merusak tatanan masyarakat, menyia-nyiakan amanat dan menzalimi jiwa.

Suap adalah jalan yang menyebabkan pemilik hak kehilangan haknya, sementara orang yang tidak berhak mendapatkannya. Kezaliman dan permusuhan akan timbul darinya. Jika suap sudah merajalela, akan merebaklah segala penyimpangan, penipuan, sikap khianat, rasa takut dan khawatir. Berbagai kemaslahatan pun akan hilang disebabkannya.

Lihatlah sebuah negeri yang telah merebak di dalamnya suap-menyuap. Kekacauan dan keburukan mencengkeram kehidupan mereka. Hingga setiap orang tidak dapat mendapatkan haknya atau memudahkan urusannya kecuali dengan melakukan suap. Orang-orang zalim mendapat tempat yang aman di negeri tersebut. Karena jika ia ditangkap karena kejahatannya, ia akan dengan mudah keluar dari tahanan dengan suap. Jika pun ia terjerat hukum, maka hukumannya pun dapat dibuat ringan dengan suap.

Suap dapat masuk dalam beragam lini kehidupan manusia. Diantaranya suap-menyuap dalam hukum dan peradilan. Disebabkan suap banyak manusia yang tidak bersalah dihukum dan yang seharusnya mendapat hukuman justru bebas darinya. Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hakim ada tiga: satu di surga dan yang dua di neraka. Yang disurga adalah hakim yang mengetahui kebenaran dan ia memutuskan perkara dengannya. Hakim yang mengenal kebenaran namun berbuat jahat di neraka, dan hakim yang memutuskan perkara manusia dengan kebodohan di neraka.” (HR Abu Dawud degan sanad yang shahih)

Suap-menyuap juga terjadi dalam urusan proyek. Ketika tender suatu proyek dibuka, salah seorang peserta tender akan memberi uang suap agar ia memenangkan proyek tersebut, padahal yang lain mungkin lebih baik dalam pekerjaannya. Suap juga terjadi dalam kasus kriminal, hukum pidana dan perdata. Para penegak hukum lemah dalam menegakkan hukum gara-gara suap. Diantara bentuk suap adalah suap yang diberikan kepada pegawai pemerintahan, polantas, pegawai imigrasi untuk melangkahi peraturan-peraturan yang berlaku.

Suap juga dilakukan sebagian orang untuk mendapat pekerjaan. Seseorang menjadi calo untuk orang yang ingin bekerja di suatu tempat dengan uang suap yang besar. Terkadang mereka menamainya dengan “menjual jasa.” Namun hakikatnya adalah suap. Bahkan, suap juga terjadi dalam bidang pendidikan. Siswa yang seharusnya tidak lulus ujian menjadi lulus, atau memberi jawaban saat ujian dengan uang suap.

Hadiah dalam Pekerjaan

Termasuk ke dalam praktik suap, hadiah dalam pekerjaan. Dari Abu Humaid As Sa’idy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hadiah-hadiah para pekerja adalah korupsi.” (HR Ahmad dan yang lainnya, shahih dengan syawahidnya) Dari Abu Humaid As Sa’idy radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan seorang laki-laki untuk mengumpulkan harta sedekah. Ketika orang itu datang, ia berkata, “Ini untuk mu dan ini hadiah untukku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhotbah di atas mimbar, setelah memuji Allah beliau bersabda, “Ada seorang amil yang kami utus, ia datang dan berkata, “Ini untukmu dan ini hadiah untukku.” Tidakkah ia duduk di rumah bapaknya atau ibunya lalu melihat apakah ia akan diberi hadiah atau tidak? Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun diantara kalian yang mengambil sesuatu dari yang demikian melainkan akan datang pada hari kiamat sambil memanggulnya.” (HR Bukhari Muslim)

Jika seorang amil menerima hadiah karena sedekah yang dikumpulkannya dengan perintah penguasa termasuk korupsi, maka demikian juga jika seorang karyawan menerima hadiah dari pemberian orang lain karena pekerjaannya, baik dinamai dengan hadiah, imbalan, uang terima kasih dan yang lainnya. Karena seorang pegawai wajib untuk mengerjakan pekerjaannya sesuai kesepakatannya dengan orang yang mempekerjakannya dan menggajinya. Maka apa yang diterimanya dari selain itu termasuk bentuk khianat. Karena jika orang ini hanya duduk di rumah, tidak akan mendapat hadiah apa pun.

Jika seorang pegawai ini mengambil imbalan atas pekerjaannya menunaikan hak orang lain, ini termasuk perbuatan korup. Jika ia mengambil imbalan untuk memberikan hak orang lain kepada orang yang tidak berhak menerimanya, maka ia telah mengambil harta tanpa hak dan zalim. Sebagaimana ia tidak boleh mengambil imbalan tersebut, orang yang berkepentingan dengannya pun tidak boleh memberi imbalan itu kepadanya.

Sebagian orang melakukan praktik suap-menyuap dan menyebutnya dengan imbalan, hadiah atau uang terima kasih. Nama-nama ini tidak merubah hukum perbuatan tersebut sedikit pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kelak akan ada di kalangan umatku yang meminum khamr dan mereka menamainya dengan selainnya.

Dalam masalah hadiah ini, Rasulullah telah menjelaskan kepada kita sebuah kaidah, “Jika seseorang diantara kalian duduk di rumah bapak atau ibunya, apakah ia akan mendapat hadiah atau tidak?” Jika kita merasa bingung dengan masalah hadiah atau imbalan ini, maka terapkan lah kaidah tersebut. Apakah jika kita tidak menjabat jabatan ini atau menjadi pegawai ini kita akan mendapatkan hadiah itu atau tidak? Bertakwalah kepada Allah, karena suap-menyuap adalah dosa besar dan akan menghancurkan keberkahan harta kita.

*Disarikan dari Khutbah Syaikhunaa Dr. Sa’ad bin Turky al Khatslan (Anggota Hai`ah Kibar al Ulama KSA) berjudul “At Tahdziir Min Al Risywah”

“Allah dan Rasulullah melaknat orang yang memberi suap dan menerimanya.”

Bahaya Suap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s