Sajak Sebatang Lisong

Pertama kali saya mengetahui sajak ini di kampus ketika ada audiensi calon Presiden BEM tahun 2011. Saat itu ada salah satu mahasiswa yang bertanya kepada para calon presiden, apakah mereka mengetahui sajak tersebut dan apa maknanya menurut masing-masing calon. Saya pun awalnya tidak tahu menahu mengenai puisi ini, namun kemudian saya langsung mencari dan menjadi sangat terkesan dengan salah satu goresan tangan W.S. Rendra itu. Jika ada di antara kalian yang belum pernah membaca, mendengar, ataupun mengetahui sajak tersebut, silakan baca dan resapi terlebih dahulu.

***

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
fajar tiba.
dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samudra.

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

W.S Rendra, 17 Agustus 1977
ITB Bandung, Potret Pembangunan dalam Puisi

***

Pada tulisan kali ini saya tidak ingin membahas tentang W.S. Rendra, karena profilnya bisa banyak dicari di internet. Salah satu pembahasan profilnya yang lengkap ada di situs Wikipedia. Yang ingin saya bahas yaitu makna yang terkandung dalam salah satu puisi hebatnya ini, tentu dengan segala kebodohan dan keterbatasan saya dalam mengartikan suatu karya sastra.

Karena terdapat 11 bait dalam sajak ini, maka saya ingin membahas per baitnya. Jangan bosen yaaa.

Bait 1Pertama, apa itu lisong? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lisong adalah “(1) rokok yang tembakaunya dicampur dengan kemenyan dan kelembak; (2) cerutu“. Supaya lebih gampang, kita asumsikan saja lisong adalah cerutu atau semacam rokok. Rendra menggambarkan bait ini sebagai cerminan ketidakadilan, di mana negara kita Indonesia (bahkan beliau menyebutkan “Indonesia Raya” yang saya anggap sebagai representasi negara ini beserta seluruh kekayaan dan kemegahan yang dimiliki) serta ratusan juta rakyatnya diperlakukan secara semena-mena oleh sekelompok cukong (KBBI: pemilik modal) di langit yang saya representasikan sebagai pengusaha mafia atau para penguasa negara yang terlampau tinggi posisinya. Bayangkan, manusia berak di atas kepala manusia lainnya. Ini adalah suatu bentuk ketidakadilan yang sudah menyentuh tingkat menjijikkan. Dan hal ini memang terjadi di negara kita, hingga detik ini.

Bait 2. Bait ini menurut saya digambarkan secara eksplisit, yaitu suatu kesedihan terhadap jutaan anak bangsa yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Dan hal ini memang terjadi di negara kita, hingga detik ini. Bait ini akan diperjelas oleh beberapa bait selanjutnya.

Bait 3. Pada bait ini, menurut saya Rendra menempatkan dirinya sendiri sebagai representatif dari banyak orang yang berusaha mempertanyakan semua permasalahan di negeri ini, namun sialnya tidak mendapatkan jawaban apapun dari para penguasa negeri ini karena mereka hanya mementingkan kekuasaannya sendiri. Kemudian ironinya, banyak pengajar dan pendidik yang seharusnya memiliki semua jawaban atas semua pertanyaan, namun hanya memberikan sesuatu yang eksak, sesuatu yang telah dituliskan dalam kurikulum per pelajarannya, tanpa mau bersusah payah untuk menjelaskan persoalan kehidupan yang nyata, kehidupan bersosial, serta pembentukan karakter. Pendidikan, bukan pengajaran. Mendidik memang lebih sulit dari mengajar, tapi bukankah seharusnya hal itu sudah menjadi tugas mulia bagi setiap guru? Kecuali jika para penguasa negara serta seluruh elemen masyarakat tidak bisa dan tidak mau mengerti serta menghargai jasa besar para “Pahlawan” negara tersebut. Wong tidak pernah diberi tanda jasa, untuk apa banyak berjasa? Dan hal ini memang terjadi di negara kita, hingga detik ini.

Bait 4. Rendra ingin menyampaikan kesedihannya terhadap nasib generasi penerus bangsa kita. Banyak dari mereka yang harus tumbuh dewasa tanpa memiliki banyak pilihan untuk berkembang, entah itu karena ketidakmerataan fasilitas serta kualitas dari sekolah ataupun universitas, entah itu karena biaya pendidikan yang semakin tinggi serta ditunjang dengan “pemangkasan” biaya bantuan dan pungutan liar, entah itu karena sedikitnya lapangan pekerjaan. Belum lagi ditambah dengan kurangnya perhatian dari pemerintah dan juga elemen masyarakat lainnya yang seakan-akan kurang peduli dengan nasib mereka. Hal ini digambarkan oleh Rendra dengan “tidak adanya pepohonan dan dangau (KBBI: gubuk di sawah) persinggahan“. Intinya, tidak semua anak memiliki harapan untuk menggapai cita-citanya. Dan hal ini memang terjadi di negara kita, hingga detik ini.

Bait 5. Inti dari bait ini hampir sama dengan bait sebelumnya, hanya saja objeknya berbeda. Objek kali ini adalah para sarjana. Banyak orang tua ingin anaknya bersekolah, hingga kuliah, hingga mendapatkan titel sarjana dengan tujuan membanggakan serta membantu orang tua nantinya. Namun apakah semua kawan-kawan sarjana kita itu bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan setelah lulus?  Memang banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan saya tidak akan membahas itu di sini. Untuk kalimat “wanita bunting antri uang pensiun“, saya kurang begitu paham maknanya. Yang bisa saya pikirkan yaitu tingkat produktivitas wanita yang kebanyakan dibatasi oleh kehamilan, sehingga setelah anak lahir, mereka sudah tidak berniat untuk bekerja lagi.

Bait 6. Saya melihat bait ini memiliki unsur ironi. Sekilas kalimat ini ingin memberitahu bahwa bangsa kita harus ditingkatkan dari sisi teknologi. Namun yang saya tangkap, kata-kata “disesuaikan dengan teknologi yang diimpor” menyatakan bahwa bangsa kita tidak mampu bangkit dengan otak dan kemampuan sendiri, namun bukannya memikirkan solusi bagaimana cara meningkatkan teknologi dalam negri, teknokrat (KBBI: cendekiawan yang berkiprah di pemerintahan) tersebut malah menekankan kita untuk terus menggunakan produk asing. Kita masih sangat tergantung dengan negara lain. Lebih dari itu, jika dilihat keseluruhan bait, ada juga kemungkinan pesan mengenai para teknokrat yang melakukan “permainan kotor” dengan bangsa asing sehingga mereka menyuruh kita untuk memakai teknologi dari luar negeri terus menerus. Dan hal ini memang terjadi di negara kita, hingga detik ini.

Bait 7. Bait ini dibuka dengan kondisi para penguasa yang bisa bersenang-senang dengan kekuasaannya tanpa mempedulikan siapa yang ada di bawah mereka. Bagaikan langit dan bumi. Sementara itu, protes dan kritik yang ditujukan kepada mereka tidak didengar, hanya sebagai buku cerita yang “terhimpit di bawah tilam (KBBI: kasur)”. Dan hal ini memang terjadi di negara kita, hingga detik ini.

Bait 8. Di sini Rendra menyindir teman-temannya sesama seniman, khususnya para penyair. Mereka cenderung membuat karya seni yang tidak berhubungan dengan kehidupan sosial. Memang hal ini tidak seharusnya menjadi masalah karena mereka memiliki hak masing-masing. Namun satu hal yang pasti, Rendra ingin mengajak para penyair lainnya untuk lebih peduli dengan keadaan sekelilingnya. Jika para penyair saja diminta untuk memikirkan kondisi sekitar, bukankah kita juga harus begitu?

Bait 9. Mirip dengan bait 4 dan 5, di sini lagi-lagi Rendra membahas nasib generasi bangsa. Begitu pedulinya ia dengan putra-putri bangsa ini. Menjadi harapan untuk keluarga, tetapi pada akhirnya harus tenggelam akibat ketidakadilan bangsanya sendiri.

Bait 10. Menurut saya inilah bait yang paling menarik. Di sini Rendra memberikan saran pamungkasnya untuk permasalahan yg dituangkan dalam sajak ini. Beliau meminta kita untuk berhenti menerima semua teori dan metode pendidikan secara mentah-mentah. Mulailah untuk melihat keadaan nyata di sekitar kita. Renungkan dan analisis problematika negara ini dan jadikanlah diri kita sebagai solusinya. Gunakanlah ilmu yang kita miliki untuk membantu sesama. Siapa lagi yang akan menolong bangsa ini jika bukan bangsa itu sendiri? 

Bait 11. Rendra menutup sajak ini dengan suatu bahan renungan. Untuk apa semua ilmu dan kemampuan yang kita miliki jika bukan untuk menolong orang lain? Sebuah bahan renungan yang sederhana, namun tidak semua orang bisa mengerti apalagi mengimplementasikannya.

***

Fiuh, panjang juga penjabaran sajak ini. Semoga kalian masih bisa bertahan membaca hingga tahap ini. Membaca memang kadang membosankan, apalagi jika tulisan yang tidak jelas seperti di blog ini. Tapi percayalah, membaca tidak akan pernah merugikan kita.

Anyway, saya ingin sedikit menambahkan sedikit hasil dari pembahasan “Sajak Sebatang Lisong” ini. Tolong maknai sajak ini dengan kacamata yang luas. Artinya, jangan menafsirkan sajak ini hanya dalam ruang lingkup kota atau desa tempat kita tinggal, lihatlah keluar, perhatikan bagaimana sistem pendidikan negara kita secara spesifik per pulau, per provinsi, bahkan per kota.

Jika kita tidak merasakan penderitaan seperti yang dituliskan oleh Rendra, maka bersyukurlah. Namun setelah itu sadarlah. Pergunakanlah ilmu yang kalian terima untuk membangun bangsa ini, membantu sesama saudara yang membutuhkan, yang juga memiliki cita-cita untuk digapai.

Jika kita termasuk ke dalam orang-orang yang merasakan penderitaan sajak tersebut, maka bersabarlah. Kemudian berusahalah terus. Jangan sampai kondisi sekitar menghambat keinginan kita untuk maju, untuk mencapai cita-cita. Karena kita semua memiliki hak untuk mendapat pendidikan yang layak serta menggapai semua mimpi.

Terakhir, pesan saya untuk para pelajar di negara Indonesia tercinta ini. Manfaatkan momen belajar dan kuliah dengan sebaik-baiknya, pelajari softskill, perbanyak pengetahuan umum di luar jurusan, dan pelajari teknik memimpin yang BAIK, JUJUR, dan TEGAS. Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang berkarakter, yang cinta dan peduli dengan bangsa dan negaranya. Nasib Indonesia ada di tangan setiap generasi muda, tangan kita semua.

“Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”

Sajak Sebatang Lisong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s